Sabtu, 17 Mei 2008

MODEL KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

MODEL KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
Perspektif Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro

Abstrak

Sri Bagus Darmoyo, 2008. Model Kepemimpinan Pendidikan-Perspektif Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro, Tugas Individu Mata Kuliah Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Kependidikan, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Semarang. Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Madyo Eko Susilo, M.Pd. dan Dr. Joko Widodo.

Kata Kunci : Kepemimpinan, Kepemimpinan Pendidikan, Ki Hajar Dewantoro.

Pimpinan suatu lembaga atau organisasi selalu ingin menumbuhkan motivasi kerja kepada setiap staf atau bawahannya, dengan harapan motivasi kerja yang tinggi akan menumbuhkan kinerja yang baik dan akan menghasilkan prestasi yang unggul dan bermutu. Dalam menumbuhkan motivasi kepada staf atau bawahan, pimpinan lembaga atau organisasi mempunyai cara yang berbeda. Cara-cara tersebut kemudian akan menjadi suatu model perilaku yang kemudian menjadi sebuah Gaya yang dapat disebut sebagai Gaya Kepemimpinan.
Kepemimpinan pendidikan yang bersifat efektif dan inovatif akan menjadikan lembaga pendidikan berkembang. Keberhasilan kepemimpinan di sekolah yaitu keberhasilan kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh hal-hal pokok meliputi : kepribadian, keteladanan, pemahaman konsep, kompetensi manajerial, dan profesionalisme kepala sekolah. Kepala sekolah yang berhasil adalah kepala sekolah yang dapat memanfaatkan kritik, saran dan masukan dari siapapun sebagai bahan pijakan untuk maju dan memperbaiki kekurangannya.
Filosofi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang sering kita dengar di sekolah dan dunia pendidikan pada umumnya serta sering kita baca di dalam buku-buku sejarah adalah ungkapan : ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani. Ungkapan tersebut sangat universal untuk diterapkan didunia pendidikan sebagai model atau gaya kepemimpinan yang digali dari falsafah bangsa Indonesia. Gaya kepemimpinan tersebut merupakan gaya kepemimpinan keteladanan yang saat ini sangat didambakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Filosofi problem solving sebagai ajaran yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantoro dengan menggunakan ungkapan bahasa jawa yang universal (sangat universal) yaitu Neng-Ning-Nung-Nang adalah salah satu gaya kepemimpinan yang merupakan hasil pemikiran asli bangsa Indonesia. Neng – berati meneng atau tenang, Ning – berarti wening atau bening, Nung – berarti dunung atau keberadaan (letak dimana), dan Nang – berarti wenang atau kemampuan/kompetensi.
Problem solving tersebut mengajarkan kepada para pemimpin dalam menghadapi suatu masalah, bahwa seorang pemimpin harus dapat memecahkan permasalahan tanpa membuat permasalahan baru. Dalam problem solving dikatakan “kita dapat menangkap ikan tanpa membuat air menjadi keruh”, atau “kita dapat menangkap ikan didalam kolam yang airnya keruh”. Dalam problem solving yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro, seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah dengan tepat dan dapat diterima oleh semua pihak tanpa ada yang merasa dirugikan.
Kepemimpinan dalam perspektif Ki Hajar Dewantoro, sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia adalah : Neng, Ning, Nung, Nang, yang merupakan singkatan dari : (1) Neng : Meneng ing solah bowo; (2) Ning : Wening ing pikir manungku pujo; (3) Nung : Dumunung kasunyatan; dan (4) Nang : Wenang ing jumenengan. Bila dikupas secara gamblang dalam kehidupan masa kini, maka perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro mengandung ajakan luhur yang harus dimiliki oleh para pememimpin bangsa, yang mana pada saat ini sudah banyak ditinggalkan.

Pendahuluan

Setiap pemimpin suatu lembaga atau organisasi selalu ingin menumbuhkan motivasi kerja kepada setiap staf atau bawahannya. Dengan harapan motivasi kerja yang tinggi akan menumbuhkan kinerja yang baik dan akan menghasilkan prestasi yang unggul dan bermutu. Dalam menumbuhkan motivasi kepada staf atau bawahan, pimpinan setiap lembaga atau organisasi mempunyai cara yang berbeda. Cara-cara tersebut kemudian menjadi suatu model perilaku yang kemudian menjadi sebuah Gaya yang selanjutnya disebut sebagai Model atau Gaya Kepemimpinan.

Gaya kepemimpinan yang kooperatif dapat mendorong staf atau bawahan meningkat motivasi kerjanya, sehingga produktifitas kerjanya meningkat pula. Dan sebaliknya gaya kepemimpinan yang lemah, kurang dalam mendukung staf dan tidak komunikatif akan mengakibatkan kurangnya motivasi kerja staf dan produktifitas akan menurun. Lebih jauh lagi bila gaya kepemimpinan yang diterapkan lemah dan tidak kooperatif atau tidak berorientasi kepada kebutuhan staf, maka akan menjadi bumerang bagi pemimpin itu sendiri, dan pemimpin yang demikian tidak akan diterima oleh bawahan.

Pembangunan Nasioanal melalui bidang pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, terampil, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian, mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam upaya mencapai tujuan pembangunan nasional tersebut peranan pendidikan sangat menentukan. Pendidikan pada umumnya dilaksanakan di sekolah dengan menanamkan nilai-nilai luhur bangsa kepada siswa-siswinya melalui proses pembelajaran. Agar proses pembelajaran yang efektif dan efisien berjalan sesuai tujuan pembangunan nasional, perlu adanya kerja sama yang baik antara guru, orang tua siswa, masyarakat sebagai stake holder, yang dimotori dan dikoordinasikan oleh Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah adalah pemimpin tertinggi di sekolah. Pola kepemimpinannya sangat berpengaruh bahkan sangat menentukan terhadap kamajuan sekolah. Pada saat menjadi guru tugas pokoknya adalah mengajar dan mendidik siswa untuk mempelajari mata pelajaran tertentu sedang sebagai Kepala Sekolah tugas pokoknya adalah “memimpin“ dan “mengelola” segala aspek yang ada disekolah, meliputi : pengelolaan kesiswaan, pengelolaan pembelajaran, pengelolaan sarana prasarana dan fasilitas, pengelolaan SDM, pengelolaan kehumasan dan lain-lain yang bermuara pada pencapaian tujuan sekolah.

Memimpin dan mengelola sangat mudah untuk dikatakan tetapi sulit untuk dilaksanakan karena perlu keterampilan khusus dan pengorbanan terutama adalah keteladanan. Seorang Kepala Sekolah harus menjadi suri teladan, baik bagi guru dan stafnya maupun siswa. Dengan keteladanan akan menghasilkan kepemimpinan yang kuat sehingga pada gilirannya tujuan pendidikan nasional dapat tercapai sehingga generasi penerus bangsa akan menjadi generasi yang cerdas, terampil dan mandiri.

A. Kepemimpinan Pendidikan

Zaman yang berbeda menghasilkan pemikiran yang berbeda, zaman yang berbeda melahirkan pemimpin yang berbeda. Topik kepemimpinan bila dibahas dan dibicarakan, sangat menarik dan tidak akan ada habisnya. Berbagai tantangan kepemimpinan dan peran sentral pemimpin dalam menghadapi situasi turbulensi, khususnya yang dihadapi bangsa ini, sangat komplek dan memerlukan legitimasi sentral agar dapat diterima oleh semua pihak didalam menerapkan “kecerdasan” dalam kepemimpinannya.

Krisis yang dialami setiap organisasi, termasuk didalamnya organisasi pendidikan, berakar pada krisis kepemimpinan nasional, khususnya berupa tantangan terhadap kecerdasan kita, yang tidak dapat lagi diantisipasi sekedar dengan kecerdasan rasional (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), namun menuntut peran kunci kecerdasan spiritual (SQ) sebagai induk segala kecerdasan.

Belajar dan berubah adalah satu-satunya cara untuk tidak tergilas oleh gelombang turbulensi global. Proses tersebut diawali dengan membangun mental pembelajaran (learning mental) – self-awareness, self-acceptance, self-improvement – dan kemudian diikuti dengan membangun perilaku pembelajaran (learning behavior) – observe, assess, design, implement — dengan mendayagunakan daya transformatif yang dimiliki oleh kecerdasan spiritual (SQ) sebagai mesin penggeraknya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu faktor pendorong kemajuan adalah kepemimpinan yang kuat sekaligus melayani masyarakat. Pemimpin yang kuat sekaligus melayani adalah pemimpin yang berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan, bahwa inti kepemimpinan adalah memengaruhi (leadership is influence). Dalam hal ini, memengaruhi orang-orang yang dipimpin untuk melaksanakan sesuatu demi mencapai tujuan bersama, bukan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan tertentu.

Prinsip kepemimpinan yang kuat sekaligus melayani, bisa diterapkan di semua tataran kepemimpinan. Mulai di tingkat rukun tetangga (RT), kepala desa/lurah, kepala daerah, organisasi, perusahaan, sampai kepemimpinan tingkat nasional. Dapat pula digunakan sebagai acuan masyarakat dalam mengharapkan kepemimpinan. Sayangnya, masih banyak pemimpin kita yang berperan sebagai penguasa (pangreh), bukan pamong. Bukan melayani, tapi ingin selalu dilayani.

Konsep kepemimpinan asli Indonesia yang sarat dengan falsafah luhur yang mungkin sebagian sudah terlupakan, seperti Tiga Peran Pemimpin dan Sepuluh Sifat Pemimpin yang Efektif dalam Kepemimpinan Sultan Banten, falsafah Wahyu Makuto Romo yang bersumber dari pewayangan, serta konsep kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang sudah lama kita kenal : ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangunkarso, tutwuri handayani.

Kepemimpinan Pendidikan di Indonesia bila kita lihat dari segala permasalahan yang dihadapi, lepas dari segala krisis kepemimpinan nasional, adalah kepemimpinan yang melayani dan kepemimpinan keteladanan. Model kepemimpinan tersebut lebih dekat dengan model kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro, seperti yang sudah sering kita dengar yaitu : Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangunkarso dan Tut wuri handayani.

Dalam ajaran Ki Hajar Dewantoro yang lain, yang belum banyak dibahas dalam karya-karya ilmiah, Ki Hajar Dewantoro memberikan 4 (empat) syarat kepribadian yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin, yaitu : Meneng ing solah bowo, Wening ing pikir manungku pujo, Dumunung kasunyatan, dan Wenang ing jumenengan.

Dari semua bahasan diatas, model kepemimpinan yang sesuai dan selaras dengan kondisi dan perkembangan pendidikan di Indonesia menurut penulis adalah perspektif kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro. Bila kita kupas, maka ada 14 (empat belas) sikap kepemimpinan yang di ajarkan yang dirangkum dalam 7 (tujuh) ajaran yaitu : (1) Keteladanan : Ing ngarso sung tulodo; (2) Motivasi : Ing madyo mangun karso; (3) Mendukung dan percaya kepada bawahan : Tut wuri handayani; (4) Sikap dan Kepribadian : Meneng Ing solah bowo; (5) Spiritual dan Berfikir positif : Weninging pikir manungku pujo; (6) Jujur, terbuka dan dapat dipercaya : Dumunung kasunyatan; dan (7) Berani, berkompeten dan profesional : Wenang ing jumenengan

B. Kepemimpinan Kepala Sekolah

Dapatkah Kepemimpinan Kepala Sekolah yang efektif dan inovatif menjadikan sekolah berkembang? Kepemimpinan Kepala Sekolah sangat dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Kepribadian, kepribadian yang kuat akan membentuk karakter diri menjadi tegas, cerdas dan ikhlas dalam menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Karakter diri akan mengembangkan pribadi yang percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial.
2. Memahami tujuan, dengan memahami tujuan pendidikan dengan baik, kepala sekolah akan selalu berjalan sesuai rel-rel hukum yang benar dalam mencapai tujuan sekolah. Dengan pemahaman yang baik kepala sekolah tidak akan menghalalkan segala cara, semua akan berjalan sesuai aturan yang berlaku.
3. Memiliki Pengetahuan yang Luas, dengan memiliki akar pengetahuan yang luas, seorang kepala sekolah akan senantiasa menerima kritik dan saran sebagai tolok ukur dan pijakan dalam bertindak dan menentukan kebijakan terutama kebijakan yang menyangkut kepentingan orang banyak. Dan kepala sekolah akan selalu menjadi manusia pembelajar.
4. Memiliki Kompetensi Profesional, keterampilan profesional yang terkait dengan tugasnya sebagai Kepala Sekolah, yaitu :
a. Ketermpilan teknis, yaitu melaksanakan fungsi manajemen sekolah dengan benar meliputi : perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan kontrol terhadap seluruh aspek kegiatan persekolahan dan mampu memberdayakan seluruh sumberdaya yang dimiliki oleh sekolah, baik sumberdaya bergerak maupun sumberdaya tidak bergerak.
b. Hubungan kamanusian, yaitu menyadari diri sebagai pribadi yang memiliki kekurangan sehingga senantiasa bekerja sama dengan orang lain, memotivasi, mendorong guru dan staf untuk maju, dan memberikan pengayoman kepada semua pihak.
5. Memiliki Keterampilan konseptual, seorang kepala sekolah harus memiliki ketrampilan konseptual sehingga dapat dengan benar mengembangkan konsep pengembangan sekolah, memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari jalan pemecahannya dengan tepat tanpa mengakibatkan gejolak apapun.

Dalam mengembangkan sekolah perlu dipahami dan dilaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan secara umum yang berlaku, yaitu :
1. Konstruktif, artinya Kepala Sekolah harus mendorong dan membina setiap staf untuk berkembang.
2. Kreatif, artinya Kepala Sekolah harus selalu mencari gagasan dan cara baru dalam melaksanakan tugas.
3. Partisipatif, artinya mendorong keterlibatan semua pihak yang terkait dalam setiap kegiatan di sekolah.
4. Kooperatif, artinya mementingakan kerja sama dengan staf dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan.
5. Delegatif, artinya berupaya mendelegasikan tugas kepada staf sesuai dengan tugas / jabatan serta kemampuan mereka.
6. Integratif, artinya selalu mengitegrasikan semua kegiatan sehingga dihasilkan sinergi untuk mencapai tujuan sekolah.
7. Rasional dan Objektif, artinya dalam melaksnakan tugas atau bertindak selalu berdasarkan pertimbangan rasio dan objektif.
8. Pragmatis dalam menetapkan kebijakan atau target. Kepala Sekolah harus mendasarkan pada kondisi nyata sumber daya yang dimiliki sekolah.
9. Keteladanan, artinya dalam memimpin sekolah, Kepala Sekolah dapat menjadi contoh yang baik.
10. Adaptabel dan Fleksibel, artinya Kepala Sekolah harus dapat beradaptasi dalam menghadapi situasi dan paradigma baru serta menciptakan situasi kerja yang kondusif.

Dewasa ini sangat benyak Model atau Gaya Kepemimpinan yang dapat diterapkan oleh para pimpinan atau lembaga dalam lembaga yang dipimpinnya. Kepala Sekolah dapat memilih dan menerapkan model atau gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi maupun kondisi staf yang dipimpinnya. Diantara model dan gaya kepemimpinan tersebut adalah :
1. Gaya Kepemimpinan Delegatif : dalam gaya kepemimpinan ini kepala sekolah lebih banyak memberikan dukungan dan mendelegasikan tugas dan wewenang kepada staf sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh staf tersebut. Sehingga staf yang memiliki kemampuan baik akan termotivasi dan akan bekerja yang baik.
2. Gaya Kepemimpinan Partisifatif : Kepala Sekolah berpartisipasi aktif dalam mendorong staf untuk menggunakan kemampuannya secara optimal, jika mengahadapi staf yang memilki kamapuan kerja baik tetapi motivasi kerjanya kurang.
3. Gaya Kepemimpinan Konsultatif : Kepala Sekolah banyak memberikan bimbingan sehingga kemampuan staf secara bertahap meningkat, jika menghadapi staf yang memilki kerja yang kurang baik tetapi memilki motivasi kerja baik.
4. Gaya Kepemimpinan Instruktif : Kepala Sekolah lebih banyak memberi petunjuk yang spesifik dan secara ketat mengawasi staf dalam mngerjakan tugasnya.

C. Fungsi Kepemimpinan Kepala Sekolah

Dalam model Kepemimpinan modern, kepemimpinan Kepala Sekolah ada tujuh fungsi pokok yang sering kita sebut dengan akronim EMASLIM, yaitu : Kepala Sekolah sebagai (1) Educator, (2) Managjer, (3) Administrator, (4) Supervisor, (5) Leader, (6) Inovator, dan (7) Motivator.
1. Kepala Sekolah sebagai Educator
Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Dan kepala sekolah sebagai guru (edukator) tidak dapat lepas dari tugas utamanya yaitu mendidik. Dalam hal ini sebagai kepala sekolah, yang dididik bukan hanya siswa, akan tetapi seluruh staf dan seluruh warga sekolah yang dipimpin.
2. Kepala Sekolah sebagai Manajer
Sebagai manajer, kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya harus melakukannya dengan prinsip-prinsip manajemen yang benar dengan menjalankan fungsi : perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan kontrol. Fungsi-fungsi tersebut harus dijalankan pada seluruh aspek kegiatan yang ada di sekolah.
3. Kepala Sekolah sebagai Administrator
Sebagai administrator, berarti kepala sekolah harus menjalankan seluruh kegiatan administrasi sekolah, dan bertanggung jawab atas terlaksananya seluruh kegiatan administrasi di sekolah.
4. Kepala Sekolah sebagai Supervisor
Sebagai supervisor, kepala sekolah harus melakukan supervisi pada seluruh kegiatan yang ada di sekolah, dan melakukan kontrol agar seluruh kegiatan berjalan pada rel kebijakan yang telah ditetapkan.
5. Kepala Sekolah sebagai Leader
Sebagai leader atau pemimpin, kepala sekolah harus menjalankan fungsi kepemimpinan yang menjadi tanggung jawabnya. Kepala sekolah sebagai leader harus menetapkan garis-garis besar kebijakan, program dan kegiatan-kegiatan operasional, dan kepala sekolah bertanggung jawab atas terlaksananya seluruh kebijakan tersebut.
6. Kepala Sekolah sebagai Inovator
Sebagai inovator, kepala sekolah harus senantiasa mencari jalan pembaruan agar sekolah senantiasa berkembang mengikuti perkembangan iptek. Kepala Sekolah harus menjadi agen pembaharuan.
7. Kepala Sekolah sebagai Motivator
Sebagai motivator, kepala sekolah harus senantiasa memberikan motivasi dan dorongan kepada semua pihak untuk maju, berkembang sesuai dengan keinginan individu, dan berkembang guna memajukan institusi/lembaga.

D. Perspektif Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro

1. Filosofi Keteladanan

Filosofi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang terdengar klasik yang sering kita dengar di sekolah dan dunia pendidikan pada umumnya serta sering kita baca didalam buku sejarah adalah ungkapan : ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Ungkapan tersebut sangat universal untuk diterapkan didunia pendidikan, karakter kepemimpinan, dan di dalam ilmu lain yang mempelajari tentang perilaku manusia.

Bila kita kupas satu persatu ungkapan Ki Hajar Dewantoro tersebut dalam kontek kepemimpinan pendidikan maka pemimpin yang handal harus memiliki sikap :
a. Ing ngarso sung tulodo, artinya dihadapan staf, pemimpin harus dapat memberi teladan kepada seluruh bawahan atau staf yang dipimpin, untuk berlaku jujur, disiplin, terbuka, berfikir positif, dan berkepribadian yang kuat (berkarakter).
b. Ing madyo mangun karso, yang artinya diantara (dalam kebersamaan dengan) staf yang dipimpinnya, pemimpin harus dapat membangkitkan semangat (motivasi) kepada seluruh staf dan menjadi mitra yang sejajar untuk bersama-sama maju menjadi agen pembaruan, dan mengajak staf untuk membangun gagasan dan kemudian mewujudkannya secara bersama-sama.
c. Tut wuru handayani, yang artinya pemimpin pada saat dibelakang (ada maupun tidak ada staf) selalu berusaha memberikan kepercayaan kepada staf yang dipimpin, mendorong dan mendukung setiap staf untuk tampil maju menunjukkan kemampuannya.

Dari tiga rangkaian kata yang merupakan ungkapan bagaimana seorang pemimpin seharusnya, bagaimana seorang pemimpin harus bersikap, dan bagaimana seorang pemimpin memotivasi bawahannya, maka dapat dikatakan disini bahwa Ki Hajar Dewantoro lebih menekankan kepada pemimpin dan calon-calon pemimpin bahwa yang utama harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah suatu sikap keteladanan, yang mencakup seluruh aspek kehidupan yaitu : Jujur, disiplin, terbuka, berfikir positif, dan berkepribadian yang kuat (berkarakter). Bila para pemimpin memiliki sikap ketaladanan, maka tatanan kehidupan di dalam Pemerintahan akan lebih baik dan permasalahan yang mungkin timbul dapat ditekan sekecil mungkin terutama permasalahan-permasalahan di bidang pendidikan.

2. Problem Solving Ki Hajar Dewantoro

Barangkali kita pernah mendengar ungkapan Neng-Ning-Nung-Nang yang merupakan filosofi problem solving yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro dengan menggunakan ungkapan bahasa jawa yang universal (sangat universal). Neng–berati meneng atau tenang, Ning–berarti wening atau bening, Nung–berarti dunung atau keberadaan (tempat dimana), dan Nang–berarti wenang atau kemampuan/kompetensi, (Keterangan : Kompetensi—kewenangan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki).

Dalam menghadapi suatu masalah, seorang pemimpin harus dapat memecahkannya dengan tenang, berfikir positif, tanpa membuat gejolak apapun, serta dapat diterima oleh semua pihak yang berkepentingan. Problem solving yang diajukan oleh Ki Hajar Dewantoro diilustrasikan sebagai cara menangkap ikan di dalam air keruh — ikannya terangkap, airnya menjadi bening. Bagaimana caranya?

Pertama, untuk dapat menangkap ikan pada air keruh, maka airnya harus meneng (Neng), air harus didiamkan agar tenang atau meneng. Bila air sudah menjadi tenang, maka air akan berubah menjadi bening (Ning). Kedua, bila air sudah tenang dan menjadi bening, maka akan kelihatan dimana dunung-nya (Nung) ikan yang akan kita tangkap. Ketiga, bila kita sudah tahu dimana dunungnya ikan yang akan kita tangkap, maka kita akan dengan mudah menentukan bagaimana cara menangkapnya, dengan alat apa, siapa yang harus menangkap, sesuai dengan kompetensi atau ke-wenang-an (Nang) siapa. Keempat, pemimpin selanjutnya akan menetapkan kewenangan siapa yang layak dan seharusnya menangkap ikan tersebut.

Jadi dalam problem solving ini, intinya pemimpin akan dengan tanpa ragu-ragu menetapkan siapa mengerjakan apa, siapa sebagai apa, dan siapa melakukan kewenangan apa didalam suatu lembaga yang dipimpinnya.

3. Kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro

Menurut perspektif Ki Hajar Dewantoro, kepemimpinan yang sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia adalah : Neng, Ning, Nung, Nang, yang merupakan sari ungkapan (singkatan) dari : (1) Neng : Meneng ing solah bowo; (2) Ning : Wening ing pikir manungku pujo; (3) Nung : Dumunung kasunyatan; dan (4) Nang : Wenang ing jumenengan. Bila dikupas secara gamblang dalam kehidupan masa kini, maka perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro mengandung ajakan luhur yang harus dimiliki oleh para pememimpin bangsa, yang mana pada saat ini sudah banyak ditinggalkan.

Secara lengkap perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro dapat dijabarkan dengan bahasa yang sederhana sebagai berikut :
a. Neng : Meneng Ing Solah Bowo
Pemimpin harus memiliki kepribadian Meneng ing Solah bowo, artinya seorang pemimpin harus bersikap tenang dalam menghadapi segala permasalahan yang mungkin timbul dalam kepemimpinannya. Selain dari itu, pemimpin dalam memutuskan permasalahan, mengambil kebijakan, menetapkan program harus senantiasa tenang, tidak sembarangan (grusah-grusuh), semua melalui pertimbangan yang panjang, cerdas, dan ikhlas. Bila pemimpin memiliki kepribadian tersebut maka pemimpin akan berwibawa, diterima dan disegani oleh mereka yang dipimpin.
b. Ning : Weninging Pikir Manungku Pujo
Pemimpin yang Wening ing Pikir Manungku Pujo, senantiasa memproyeksikan segala sesuatu yang dihadapi adalah berasal dari kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga dalam melakukan pemecahan masalah, penentuan kebijakan, dan penetapan program maupun kegiatan di dalam lembaga yang dipimpin selalu dilandasi dengan pikiran positif bahwa semua yang dikerjakan akan mendapat ridho dari Allah Tuhan YME. Pemimpin yang demikian selalu berfikir positif (sabar, eling dan narimo) dan melaksanakan tugas tanpa beban dan tanpa pamrih.
c. Nung : Dumunung Kasunyatan
Seorang pemimpin harus Dumunung Kasunyatan. Pemimpin harus berkehendak, berbicara, dan bertindak sesuai dengan kenyataan yang ada. Tidak ada hal-hal yang ditutupi dan tidak ada pilih kasih. Ciri pemimpin yang Dumunung Kasunyatan selalu mengedepankan : Kejujuran, Keikhlasan, dan menjaga Nilai-nilai luhur yang menjadi akar budaya masyarakat dan budaya organisasi. Pemimpin yang demikian dapat menyesuaikan dengan keadaan dimanapun dia berada. Dumunung Kasunyatan juga dapat berarti bahwa : Perkataan (lati), Fikiran (ati) dan Tindakan (pekerti) adalah sama, sehingga pemimpin yang demikian melakukan tindakan apapun tenang dan tanpa beban. Antara pembicaraan, tindakan dan fikiran selaras dan sejalan, dalam bahasa jawa dikatakan bahwa : “Dadi pemimpin iku kudu Jumbuh antarane pikiran, tindakan lan pangandikan, yen ora, nroko papane”.
d. Nang : Wenang Ing Jumenengan
Sikap Wenang ing Jumenengan dari seorang pemimpin adalah menyangkut masalah kompetensi dan kepampuan profesional seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya yang terkait dengan manajemen sumber daya manusia. Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya harus mampu melaksanakan kewenangannya dalam membagi tugas sesuai dengan kemampuan staf yang dipimpin. Wenang ing jumenengan selaras dengan pepatah populer : “The right man in the right place”, artinya pemimpin harus memiliki kewenangan untuk mampu membagi tugas sesuai dengan kompetensi-kompetensi yang dimiliki oleh staf yang dipimpin. Berikan tugas kepada ahlinya. Akan tetapi yang sering terjadi pada saat ini adalah kewenangan yang sewenang-wenang, dengan alasan hak prerogatif. Hal ini tidak masuk dalam kepemimpinan yang diajarkan menurut perspektif Ki Hajar Dewantoro.

Perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro yang selaras dengan falsafah Kepemimpinan Jawa saat ini sudah banyak ditinggalkan oleh para pemimpin bangsa saat ini. Akan tetapi sebagai kekayaan falsafah dan ilmu pengetahuan bangsa, maka tidak ada salahnya apabila perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro ini digali kembali untuk dikembangkan dan diterapkan pada model-model kepemimpinan, terutama kepemimpinan di dalam dunia pendidikan yang memerlukan Keteladanan, Motivasi, Kejujuran, Kerja Keras dan Kerja Ikhlas menuju dunia pendidikan yang dapat bersaing di kancah Regional dan Internasional.

E. Kesimpulan

1. Model Kepemimpinan yang diajarkan Ki Hajar Dewantoro dapat dibagi dalam 7 (tujuh) sikap kepemimpinan yang dipersyaratkan sebagai seorang pemimpin yaitu : (1) Keteladanan : Ing ngarso sung tulodo; (2) Motivasi : Ing madyo mangun karso; (3) Mendukung dan percaya kepada bawahan : Tut wuri handayani; (4) Sikap dan Kepribadian : Meneng Ing solah bowo; (5) Spiritual dan Berfikir positif : Weninging pikir manungku pujo; (6) Jujur, terbuka dan dapat dipercaya : Dumunung kasunyatan; dan (7) Berani, berkompeten dan profesional : Wenang ing jumenengan.
2. Kepemimpinan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan jaman dan sesuai dengan paradigma perkembangan pendidikan di Indonesia adalah Falsafah kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro yang bila dijabarkan akan menjadi 7 (tujuh) kepribadian pemimpin meliputi :
a. Keteladanan, yaitu pemimpin harus memiliki sikap dan kepribadian yang dapat diteladani oleh staf dan bawahan yang dipimpin
b. Motivasi, yaitu pemimpin harus senantiasa memberikan motivasi kepada staf yang dipimpin untuk selalu mengembangkan diri dan bersama-sama maju untuk kepentingan bersama, kepentingan lembaga diatas kepentingan pribadi.
c. Legowo, yaitu sifat pemimpin yang memberikan kepercayaan penuh kepada staf yang dipimpin untuk mengerjakan tugas yang diberikan tanpa tendensi apapun.
d. Tenang, yaitu pemimpin harus tenang dalam menghadapi permasalahan yang timbul dan mungkin akan terjadi dalam lembaga yang dipimpinnya.
e. Berfikir Positif, yaitu pemimpin harus senantiasa berfikir positif dan memperspektifkan bahwa segala yang terjadi didalam lembaga adalah karena kehendak Yang Maha Kuasa.
f. Jujur, Ikhlas dan Dapat dipercaya, yaitu pemimpin yang berfikir, bertindak dan berbuat sesuai kenyataan, apa adanya, adil dalam tindakan, perkataan dan pikiran.
g. Berkompeten dan Profesional, yaitu pemimpin memahami bahwa kepentingan lembaga adalah diatas kepentingannya, sehingga dalam melakukan tugas, membagi kewenangan selalu memperhatikan kepentingan lembaga, sehingga tidak sewenang-wenang. Segala tindakan selalu diproyeksikan untuk kemajuan lembaga secara benar dan menyeluruh.
3. Perspektif kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro hanya akan menjadi cerita bila tidak digali, dicermati dan dilaksanakan oleh generasi penerus bangsa. Ajaran kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro perlu dibangkitkan kembali sebagai falsafah bangsa untuk mengisi 100 tahun Kebangkitan Bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Adi Ekopriyono, Kepemimpinan yang Melayani, Suara Merdeka, Semarang.
H. Heru Wahyukismoyo, Pembangunan & Pendidikan Berbasis Kebudayaan, Harian Umum Kedaulatan Rakyat, Jogjakarta
Ki Priyo Dwiarso, Problem Solving ala Ki Hajar Dewantoro, Internet.
Marselius ST - Rita Andarika, Hubungan antara Persepsi Gaya Kepemimpinan Transformasional, 36 Desember 2004, Internet
Taufik Bahaudin, Kepemimpinan Abad Otak dan Milenium Pikiran, Penerbit : PT Elex Media Komputindo, Internet
www.atmajaya.ac.id, Permasalahan Pendidikan Indonesia Perlu Dipetakan Kembali, Internet.
……………………………………. , Artikel Humaniora, Kebangkitan Nasional, Kepemimpinan, Pemerintahan dan Pendidikan. Nopember 29, 2007
…………………….………, Model Kepemimpinan Manakah Yang Kita Gunakan Saat Ini?, Internet
…………………, 1001 Kisah tentang Sekolah, Internet.

2 komentar:

Mohamad Adriyanto mengatakan...

terima kasih atas tulisannya pak, sangat bermanfaat. mohon izin baca utk referensi :-)

Ian JP mengatakan...

Wah, artikelnya lengkap banget Pak. Saya sepakat bahwa seorang pemimpin pendidikan harus memiliki kualitas IQ, EQ, dan SQ yang baik. Agar out putnya jgua bagus...